LAGU MUSIK

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Lagu Musik
Pengantar Penerjemah Buku 
Noktah-Noktah Hitam Senandung Setan
Karya : Ibnu Qayyim Al Jauziyah
Oleh : Abu Ihsan Atsari


Musik sudah menjadi makanan pokok pada kebanyakan orang pada hari ini. Seakan-akan mereka tidak bisa hidup tanpa musik dan lagu. Pagi-pagi buta suara musiklah yang mengalun pertama kali di rumah mereka. Kalaulah kita data satu persatu, hampir di setiap rumah kita temui kaset atau cd musik, karaoke dan sejenisnya! itulah realita kita!

Virus musik dan nyanyian yang tersebar di kalangan masyarakat kita sudah mencapai titik yang sangat membahayakan! Bahaya itu dapat kita lihat dari maraknya penjualan cd-cd musik dan karaoke yang menjamur di kaki-kaki lima, mal-mal dan tempat-tempat umum lainnya. Dengan setelan musik yang keras begitu memekikkan telinga dan mengganggu orang lain, Mereka tidak lagi menghiraukan kata-kata cabul, kotor dan tak senonoh yang menjadi lirik lagu tersebut. Sudah lumrah kata mereka!

Tidakkah kalian tahu virus musik dan nyanyian ini sangat besar daya rusaknya terhadap diri seseorang. Hancurnya generasi muda sekarang ini, kalau kita telusuri sebabnya, banyak yang berpangkal dari musik, maka dari itu para ulama menyebut musik dan lagu ini sebagai jampi-jampi perzinahan. Memang benar daya hipnotis musiklah yang mendorong mereka melakukan perzinahan, mulai dari zina tangan, zina mata, zina telinga, zina kaki sampai pada akhirnya dibuktikan oleh kemaluan.

Kalau kita mau jujur, sebenarnya pangkal kerusakan ini tidak terlepas dari pendidikan orang tua yang sangat lemah. Anak-anak mereka sejak usia dini sudah dicekcoki dengan musik dan lagu. Hingga kalau kebetulan kita melintas di jalanan atau sebuah gang kadang kita temui sekumpulan anak kecil yang sedang bernyanyi menirukan penyayi idolanya. Ajaibnya anak sekecil itu hafal lirik lagu dari awal sampai akhir.

Kalau dulu di era generasi Salafus Shalih, penyanyi begitu hina kedudukannya di masyarakat, sekarang justru kebalikannya. Penyayi begitu mulia dan terhormat dalam pandangan mereka sehingga seluruh gerak-geriknya menjadi buah bibir dan berita, seluruh tindak tanduk dan model penampilannya jadi trend di kalangan mereka.

Akibat dari itu semua memudarnya nilai-nilai ajaran agama yang murni! AlQur'an seakan sudah menjadi sesuatu yang ditinggalkan. Tidak lagi dirasakan kenikmatan saat mendengarkannya. Shalat juga terganggu kekhusyukannya. Memang shalat adalah ibadah pertama yang terkena dampak dari kecanduan musik dan nyanyian ini. Lirik-lirik lagu dan irama musik dapat mengganggu/mengusik saat dia mengerjakan shalat, sehingga hilanglah kenikmatan shalat baginya. Kadangkala ia juga meninggalkan shalat, ia lebih memilih menikmati alunan musik daripada menyambut seruan adzan. Fenomena seperti ini banyak kita dapati di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh karena itu jangan heran bila pagelaran musik dipadati oleh banyak pengunjung, sementara jumlah orang yang shalat berjama'ah di masjid dapat dihitung dengan jari. Itu REALITA!

Di lain pihak ada pula yang berusaha mengemas musik bernafaskan Islam, kata mereka. Mereka menyebut nyanyian rohani, musik Islami, nasyid Islami dan seabrek istilah-istilah lainnya.
Seolah-olah perkara yang dibubuhi kata-kata islami menjadi label HALAL baginya. Padahal menurut Ibnu Qayyim musik-musik yang katanya Islami itu lebih berbahaya daripada jenis musik dan lagu selainnya. Karena pembubuhan kata Islami di situ merupakan pernyataan bahwa hai itu termasuk perkara yang boleh merurut syariat Islam. Padahal Dienul Islam tidak pernah membolehkan hal itu. Maka dengan begitu ia bukan hanya sekedar maksiat namun meningkat menjadi BID'AH. Banyak kita dapati orang-orang yang menikmati musik dan lagu islami itu berkeyakinan bahwa hal itu dapat meningkatkan keimanannya, mendorongnya untuk berbuat taat, mendorongnya untuk lebih mencintai Allah dan Rasulnya. Ini adalah syubhat setan dalam menjerat mereka kepada hal-hal yang memalingkan mereka dari Alqur'an dan mentadabburinya.

Banyak pula kita temui orang-orang yang tergugah hatinya, bangkit kesedihannya hingga berlinangan air mata karena mendengarkan alunan nasyid atau syair, namun tidak demikian halnya ketika mendengarkan alunan ayat-ayat AlQur'an. Hatinya tidak tersentuh sedikitpun.

Demikianlah melalui musik dan nyanyian ini setan memalingkan anak Adam dari Kalamullah. Setan menebar jerat-jerat syubhat agar anak Ada tetap meyakini bahwa mendengarkan musik dan nyanyian ini bukanlah perkara yang perlu dipermasalahkan. Ini terbukti dengan sedikitnya buku-buku atau tulisan-tulisan yang membeberkan kebusukan musik dan nyanyian serta membongkar syubhat-syubhatnya.

Banyak sekali syubhat-syubhat seputar masalah musik dan nyanyian yang dihembuskan oleh setan. Salah satu diantaranya, setan membisikkan kepada manusia : "Apa bedanya mendengarkan musik dengan mendengar suara kicauan burung , hembusan angin, gemericik dedaunan, dan suara-suara lainnya? Lalu syubhat model seperti ini termakan oleh orang-orang yang lemah akal dan Imannya.
Seluruh ulama empat Madzhab sepakat bahwa musik, lagu, dan nyanyian itu HARAM hukumnya.


Komentar